Rabu, 01 Juli 2009
Aksi Kritik Sosial Pilpres 2009 “One Man One Statement for Indonesia” KAMMI Komisariat Eksakta Universitas Andalas Padang
Senin, 29 juni 2009 kembali pergerakan mahasiswa yang biasa dikenal sebagai motor penggerak aksi yakni kesatuan aksi mahasiswa muslim Indonesia atau yang lazim disebut dengan KAMMI menunjukkan kembali eksistensinya sebagai control social. Pada aksi yang diangkat oleh KAMMI Komisariat Eksakta Unand kali ini mengangkat tema “ One Man One Statement For Indonesia “ yang dilakukan di pusat aliran arus aktivitas masyarakat dan mahasiswa yakni halte bus pasar baru yang biasa dijadikan tempat pergantian penumpang terutama mahasiswa unand dan juga masyarakat sekitar pasar baru.
Ketua Umum KAMMI Komisariat Eksakta Unand, Muhammad Taufiq mengatakan “Kegiatan aksi tersebut bertujuan agar sekiranya apa yang menjadi keinginan dan harapan mahasiswa dapat terlaksana oleh pemerintahan yang baru, begitu pula dengan kritikan yang disuarakan oleh mahasiswa sehendaknya dapat menjadi hal yang dapat membangun untuk kemajuan Indonesia ke depan”. Aksi tersebut dimulai pada pukul 08.00 pagi hari dan selesai pada pukul 15.00 siang hari. Lebih dari 500 mahasiswa yang menuliskan sebuah kalimatnya menjadi catatan penting dalam agenda Indonesia ke depan.
Aksi kali ini berbeda dengan aksi yang biasa dilakukan sebelumnya, biasanya kammi turun kejalan dan melakukan longmarch dengan rute aksi yang berpusat ditempat wakil rakyat (gedung DPR) dengan membawa secarik pernyataan sikap, akan tetapi kali ini KAMMI langsung turun kejalan menampung aspirasi mahasiswa dan masyarakat pada sebuah spanduk putih mengenai harapan untuk Indonesia kedepan terutama terkait mengenai agenda terdekat bangsa ini yang notabennya merupakan agenda besar untuk melahirkan sosok pemimpin Indonesia yakni pemilihan presiden (pilpres) 2009. Hal ini dilakukan karena lesunya minat dan semangat mahasiswa atau pemuda yang mau bersusah-susah turun kejalan berteriak menyampaikan aspirasinya dengan kemungkinan besar hanya menjadi dengungan ditelinga para wakil rakyat. Oleh karena itu aksi kali ini berbentuk tulisan (one man one statement) yang nantinya akan difollow up ke-KPU sumbar sebagai pemicu terwujudnya pemilu yang berkualitas sekaligus bagi ketiga pasangan kader terbaik bangsa sebagai calon yang akan mengisi posisi utama kepemimpinan bangsa ini (RI 1 dan RI 2). Banyak harapan yang disampaikan oleh mahasiswa dan masyarakat diantarannya :
“ jangan hanya janji doang yang penting bukti”
“ jangan hancurkan harapan kami”
“ anti neoliberalisme”
“ wujudkan Indonesia maju dan sejahtera”
“ tingkatkan partisipasi aktif masyarakat pada pemilu kali ini”
“jangan bodohi kami dengan black campaign”
Harapan – harapan diatas bukanlah harapan semu yang diwujudkan hanya dalam mimpi semata. Bukanlah harapan yang hanya ditegakkan dengan janji – janji kosong sebagai penarik simpati masyarakat. Akan tetapi harapan bangsa ini haruslah benar –benar terpatri dalam jiwa para calon pemimpin Indonesia yang harus terwujudkan baik tampuk kekuasaan ditangan ataupun tidak. Karena ketiga pasang calon pemimpin bangsa ini mampu melakukan hal itu, ketiganya memiliki power untuk itu walaupun dalam taraf yang tidak terlalu besar dibanding ketika memegang tampuk kekuasaan. “Janganlah Kekuasaan Menjadi Orientasi Utama Tapi Jadikanlah KepentinganRakyat Diatas Segala Kepentingan Karena Itulah Tugas Anda”
Disela-sela kegiatan aksi berlangsung, terlihat jelas dari beberapa petinggi organisasi pun ikut turut andil di dalamnya. Seperti Presiden Negara Mahasiswa FISIP Unand Pangi Syarwi, Gubernur BEM Fakultas Pertanian Rafnel Azhari dan mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Teknologi Pertanian Husni Panjaitan. Selain itu aksi kali ini juga diselingi dengan pembagian stiker dari KPU yang berisikan ajakan memilih pada tanggal 8 juli mendatang. Hal ini dilakukan mengingat bahwa masih tingginya angka golput pada pemilu legislative yang lalu. Semua itu menunjukkan bahwa saat ini rakyat belum berani menentukan pilihan terhadap wakilnya yang akan menyuarakan suara rakyat digedung parlemen. Rakyat merupakan kunci utama suksesnya pesta demokrasi suatu bangsa oleh karena itu tentukan pilihan anda sekarang karena berani memilih harus berani bertanggung jawab demi kemajuan bangsa. Kedepan mari sama – sama kita tingkatkan peranan kita sebagai agent of change, sekaligus peran kita sebagai kontrol sosial karena itu sangat penting demi nasib bangsa ini. Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum jika tidak kaum itu sendiri yang berusaha mengubahnya.
Senin, 15 Juni 2009
Pemilu 2009 Berpotensi Semrawut, Konflik, Polemik
Tahapan Pemilu 2009 yang sudah mulai berjalan, seperti penetapan peserta pemilu, pengundian nomar urut, dan pelaksanaan kampanye tertutup, berpotensi menimbulkan kesemrawutan di lapangan.
Penilaian itu disampaikan anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah, A. Fikri Faqih, di Semarang, Senin, menanggapi tidak teraturnya kampanye partai politik di hari pertama dan kedua, 12-13 Juli 2008.
"Regulasi yang ada saat ini tidak mampu mengantisipasi proses dan tahapan pemilu yang sudah berjalan sehingga aturan serta penyelenggaraanya seolah apa adanya saja," katanya.
Ketua Fraksi PKS DPRD Jateng itu mencontohkan, sampai saat ini perangkat-perangkat dasar penyelenggaraan pemilu belum diselesaikan, seperti suksesi anggota KPU provinsi, KPU kabupaten/kota, serta panwas.
"Baik KPU maupun panwas adalah unsur utama penyelenggaraan pemilu, semuanya belum siap. Ini rawan menimbulkan penyimpangan dan akan membuka peluang terjadinya kekisruhan di kemudian hari," katanya.
Menurut dia, bibit-bibit polemik itu sudah terlihat sejak penetapan partai peserta Pemilu 2009 dan pengaturan kampanye, terlihat banyaknya protes yang masuk ke KPU. Bahkan banyak kalangan yang berpendapat cacat hukum, padahal semuanya harus ada kepastian dan ketegasan, dan perlu disikapi bijaksana oleh semua pihak.
Di Jawa Tengah, Fikri melihat peluang penyimpangan sangat besar karena masa kerja KPU provinsi serta kabupaten akan berakhir pada bulan September 2008, padahal saat ini mereka sudah mulai menyiapkan perangkat dan mekanisme Pemilu 2009.
"Pergantian di tengah jalan akan berimplikasi dua hal secara teknis akan mengganggu dan secara politis rawan munculnya KPU yang tidak independen," katanya.
Saat ini Fikri mengakui belum ada koordinasi teknis antara KPU, DPRD, pihak keamanan dengan partai politik tentang penyelenggaraan tahapan-tahapan pemilu.
Sekarang ini masa kampanye sudah dimulai, namun parpol di tingkat provinsi belum mendapatkan pengarahan serta membuat kesepakatan-kesepakatan teknis sehingga wajar jika pemasangan atribut semrawut seperti sekarang, katanya.
Kondisi tersebut, menurut dia, akan membuka kian lebar celah hukum mengenai keabsahan penyelenggaraan pemilu serta rawan menimbulkan konflik horisontal di lapangan.
"Jangan sampai pesta demokrasi yang mahal harganya ini nanti menimbulkan polemik yang berkepanjangan seperti beberapa pilkada yang ada," katanya.
Fikri mengharapkan segera dilakukan koordinasi secara teknis dalam penyelenggeraan tingkat provinsi. Selain itu DPRD maupun KPU provinsi harus berani mengusulkan "rescheduling" tahapan pemilu kepada pemerintah pusat.
"Langkah ini bukan untuk mengacaukan tahapan yang sudah ada, tetapi mumpung tahapan baru berjalan sebagian," saran Fikri.
Sumber:
Kamis, 14 Mei 2009
Islamic student groups must be alert
The Jakarta Post , Jakarta | Wed, 03/07/2001 7:31 AM | Opinion
By Muhammad Qodari
JAKARTA (JP): An article I wrote on Islamic groups and the student movement published on Feb. 15 in this newspaper, has prompted a response from a friend of mine, Andi Rahmat, chairman of the Indonesian Muslim Students Action Front (KAMMI).
In his article on Feb. 20, Rahmat grasped the most important point; that there is a danger that New Order remnants, in pursuing their own goals, may be manipulating Islamic sentiment among students in opposition to President Abdurrahman Wahid, or Gus Dur.
Rahmat, however, has also shown some misunderstanding. I never intended to simplify matters to say that the chief motive behind the movement in opposition to Gus Dur is the Muslim student groups' dislike for Gus Dur and for Nahdlatul Ulama.
I only wanted to disclose that the discourse among the students movement in opposition to Gus Dur is not as simple or as neutral as their rhetoric of the six-point reform vision.
The students' movement is now dominated by a network affiliated with KAMMI, a students' organization with great concerns on the Islamic political agenda. This domination has found expression at the level of discourse and also in the number of its active participants in rallies; this has influenced, to a considerable degree, public opinion particularly on the issue of whether Gus Dur will survive.
Nowadays, when transparency is regarded a prerequisite for democracy, broad segments of the community must enjoy the right to know as much as possible about political figureheads and their respective agendas.
They must be informed that, unlike the multireligious, multi-ideological and multiorganizational 1998 students' movement, the students' movement of 2001 is dominated by one based on Islamic ideology.
This ideological basis is important to take into account not only because Indonesia is a multireligious, multiethnic and multicultural state, but also because it is associated with the essence of democracy, which, as Andi Rahmat has put it, is the agenda of today's Islamic students' groups.
KAMMI and its network now control a number of formal students' organizations across Indonesia.
Rahmat may be right when saying that KAMMI and its network opposed former presidents Soeharto and B.J. Habibie -- though compared to other students' action fronts KAMMI tended to be more passive.
He may also be right in saying that the above network silently boycotted the 1992 and 1997 elections as a manifestation of their disagreement with the New Order.
However it is obvious that KAMMI and its network were not, in their original format, students' groups taking up a frontline position in resisting Soeharto and the New Order regime.
If only the paradigm of democratization prevailing among Muslim students' movement had been as solid as Rahmat had put it, their firm stance towards Soeharto would have surfaced much earlier.
A survey conducted by a team from the Indonesian Institute of Sciences on the 1998 students' movement discloses that in the late 1980s until shortly before Soeharto's fall in 1998, KAMMI and its networks were not on the list of student groups openly opposing Soeharto.
During my student years, elements associated with KAMMI only responded to matters with specific Islamic interests like the national lottery or issues of Bosnia and Chechnya.
The reason is crystal clear: KAMMI avoided direct confrontation with Soeharto. KAMMI itself was not officially established until April 10, 1998, only shortly before the wave of student action peaked.
Rahmat stated that ""the students' message portrays the original outlook of Muslim students regarding democratization, and not a mask to cover their fundamentalist face, as some have accused"". This statement should not stop at mere rhetoric.
KAMMI activists are known to have, either secretly or openly, campaigned that their candidates for student bodies were purely Islamic, while rival candidates, although also Muslims, were secular or non-practitioners.
Instructions were issued prohibiting followers to elect a non-Islamic leader. This practice went on for years, at least at the University of Indonesia.
This practice is against the principle of democracy, which brings into question their performance in the political arena outside campus.
Rahmat mentioned Islam and Democracy, a book by John L. Esposito and John O. Voll. It is not clear which argument Rahmat wished to defend by quoting from a book on Islamic discourse and practices of democracy in Iran, the Sudan, Pakistan, Malaysia, Algiers and Egypt.
The writers reached the following conclusion,""Both the government and sociopolitical movements in these countries have often made use of religious symbols and jargons in their own interest; they have cashed in on, abused, applied and manipulated religion and politics.""
I do not hate KAMMI and its network. I actually admire the activists who are known to be honest and devout. However, any group with an agenda of religious interest and sentiment will always be vulnerable to the political manipulation of religion by such groups as the remnants of the New Order.
The study by Esposito and Voll has only confirmed these fears.
The writer works with the Institute for Studies on the Free-flow of Information, Jakarta.
Islamic student groups must be alert
The Jakarta Post , Jakarta | Wed, 03/07/2001 7:31 AM | Opinion
By Muhammad Qodari
JAKARTA (JP): An article I wrote on Islamic groups and the student movement published on Feb. 15 in this newspaper, has prompted a response from a friend of mine, Andi Rahmat, chairman of the Indonesian Muslim Students Action Front (KAMMI).
In his article on Feb. 20, Rahmat grasped the most important point; that there is a danger that New Order remnants, in pursuing their own goals, may be manipulating Islamic sentiment among students in opposition to President Abdurrahman Wahid, or Gus Dur.
Rahmat, however, has also shown some misunderstanding. I never intended to simplify matters to say that the chief motive behind the movement in opposition to Gus Dur is the Muslim student groups' dislike for Gus Dur and for Nahdlatul Ulama.
I only wanted to disclose that the discourse among the students movement in opposition to Gus Dur is not as simple or as neutral as their rhetoric of the six-point reform vision.
The students' movement is now dominated by a network affiliated with KAMMI, a students' organization with great concerns on the Islamic political agenda. This domination has found expression at the level of discourse and also in the number of its active participants in rallies; this has influenced, to a considerable degree, public opinion particularly on the issue of whether Gus Dur will survive.
Nowadays, when transparency is regarded a prerequisite for democracy, broad segments of the community must enjoy the right to know as much as possible about political figureheads and their respective agendas.
They must be informed that, unlike the multireligious, multi-ideological and multiorganizational 1998 students' movement, the students' movement of 2001 is dominated by one based on Islamic ideology.
This ideological basis is important to take into account not only because Indonesia is a multireligious, multiethnic and multicultural state, but also because it is associated with the essence of democracy, which, as Andi Rahmat has put it, is the agenda of today's Islamic students' groups.
KAMMI and its network now control a number of formal students' organizations across Indonesia.
Rahmat may be right when saying that KAMMI and its network opposed former presidents Soeharto and B.J. Habibie -- though compared to other students' action fronts KAMMI tended to be more passive.
He may also be right in saying that the above network silently boycotted the 1992 and 1997 elections as a manifestation of their disagreement with the New Order.
However it is obvious that KAMMI and its network were not, in their original format, students' groups taking up a frontline position in resisting Soeharto and the New Order regime.
If only the paradigm of democratization prevailing among Muslim students' movement had been as solid as Rahmat had put it, their firm stance towards Soeharto would have surfaced much earlier.
A survey conducted by a team from the Indonesian Institute of Sciences on the 1998 students' movement discloses that in the late 1980s until shortly before Soeharto's fall in 1998, KAMMI and its networks were not on the list of student groups openly opposing Soeharto.
During my student years, elements associated with KAMMI only responded to matters with specific Islamic interests like the national lottery or issues of Bosnia and Chechnya.
The reason is crystal clear: KAMMI avoided direct confrontation with Soeharto. KAMMI itself was not officially established until April 10, 1998, only shortly before the wave of student action peaked.
Rahmat stated that ""the students' message portrays the original outlook of Muslim students regarding democratization, and not a mask to cover their fundamentalist face, as some have accused"". This statement should not stop at mere rhetoric.
KAMMI activists are known to have, either secretly or openly, campaigned that their candidates for student bodies were purely Islamic, while rival candidates, although also Muslims, were secular or non-practitioners.
Instructions were issued prohibiting followers to elect a non-Islamic leader. This practice went on for years, at least at the University of Indonesia.
This practice is against the principle of democracy, which brings into question their performance in the political arena outside campus.
Rahmat mentioned Islam and Democracy, a book by John L. Esposito and John O. Voll. It is not clear which argument Rahmat wished to defend by quoting from a book on Islamic discourse and practices of democracy in Iran, the Sudan, Pakistan, Malaysia, Algiers and Egypt.
The writers reached the following conclusion,""Both the government and sociopolitical movements in these countries have often made use of religious symbols and jargons in their own interest; they have cashed in on, abused, applied and manipulated religion and politics.""
I do not hate KAMMI and its network. I actually admire the activists who are known to be honest and devout. However, any group with an agenda of religious interest and sentiment will always be vulnerable to the political manipulation of religion by such groups as the remnants of the New Order.
The study by Esposito and Voll has only confirmed these fears.
The writer works with the Institute for Studies on the Free-flow of Information, Jakarta.
Rabu, 13 Mei 2009
mengapa harus berwacana??? aksi atau dialektika yang kita butuhkan hari ini
Pergerakan menuju suatu perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya suatu aksi. Apa yang kita perlukan hari ini adalah suatu substansi yang lebih penting kita utamakan daripada kita hanya sibuk berwacana di kalangan publik. Praktik harus segera dilakukan, jangan hanya bisa berteori saja. Pada prinsipnya suatu perubahan terjadi dari adanya aksi. Dan ingatlah bahwa aksi ini tidak sesulit yang kita pikirkan. Kita hanya perlu bergerak dan terus bergerak, karena itulah yang kita perlukan hari ini. Dan untuk menciptakan sebuah mimpi kita tidak bisa hanya selalu berkhayal ataupun berimajinasi terus – menerus, tetapi untuk mencatat sejarah baru harus ada yang berusaha untuk menorehkan tinta dari penanya. Jangan hanya sekedar menunggu dan terus menunggu sampai datang yang kita inginkan, namun budayakanlah dalam diri untuk melangkah selangkah lebih maju, berpikirlah dinamis karena pada hakekatnya seseorang itu mempunyai segudang kreativitas yang dimilikinya, hanya saja mungkin kurang terasah sehingga hanya terdiam saja bagaikan sebilah pisau yang tumpul yang tiada berguna karena tidak bisa dipergunakan. Pisau tersebut dapat dipergunakan kembali apabila ia sering diasah dan dipergunakan untuk memotong sesuatu secara terus – menerus. Maka dari itu, asahlah pribadi kita agar selalu senantiasa dan terbiasa untuk beraksi sehingga tercipta suatu perubahan baru yang nantinya akan menyongsong lahirnya pemuda – pemuda yang terampil dan yang membangun peradaban baru dilembaran sejarah yang baru.
Ingatlah wahai pemuda, kemenangan itu bukan datang karena diberikan tetapi kemenangan itu akan tiba dari hasil perjuangan. Perjuangan yang akan dilewati mungkin akan terasa melelahkan, tetapi hasil yang diperoleh dari perjuangan tersebut akan terasa indah, seindah proses lelahnya kita dalam mencapai kemenangan itu. Dengan segenap hati kita bergerak dan beraksi maka dengan segera pula hasil yang akan kita raih. Proses pencapaian suatu hasil akan terasa lambat apabila kita hanya bisa bersantai – santai tanpa adanya usaha. Maka dari itu usaha yang kita lakukan akan sangat menentukan cepat atau lambatnya kita meraih suatu hasil.
( untukmu wahai mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian yang sedang berjuang )
Kepedulian mungkin hal yang sangat substansi hari ini yang kita butuhkan untuk menuntaskan seluruh masalah. Sekedar seruan kepada kita semua bahwa masalah ini harus segera dituntaskan. Janganlah kita biarkan terus berlarut – larut tanpa penghujung yang jelas. Berpikirlah yang jernih, bersikaplah yang tegas, mungkin itu adalah solusi yang tepat untuk mengakhiri seluruh permasalahan yang ada. Bersemangatlah untuk suatu hasil yang terbaik karena dengan semangat yang tinggi akan mampu meretas kebangkitan untuk suatu perubahan.
Referensi untuk selalu berjuang dalam setiap kehidupan
Seseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.
Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang.
Seiring dengan berjalannya waktu. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaanorang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksacairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan dan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang \ cita-cita dan harapan yang kita mintakan. Kita mungkin tidak akan pernah dapat "Terbang". Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih dan maha Penyayang.
Kita memohon Kekuatan... Dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untukmembuat kita tegar. Kita memohon kebijakan... Dan Tuhan memberi kita berbagai persoalan Hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana. Kita memohon kemakmuran... Dan Tuhan memberi kita Otak dan Tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran. Kita memohon Keteguhan Hati... Dan Tuhan memberi Bencana dan Bahaya untuk diatasi. Kita memohon Cinta... Dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai. Kita Memohon kemurahan/kebaikan hati... Dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.
Begitulah cara Tuhan membimbing Kita. Apakah jika saya tidak memperoleh yang saya inginkan, berarti bahwa saya tidak mendapatkan segala yang saya butuhkan? Kadang Tuhan tidak memberikan yang kita minta, tapi dengan pasti Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak mengerti mengenal, bahkan tidak mau menerima rencana Tuhan, padahal justru itulah yang terbaik untuk kita. Tetaplah berjuang...berusaha...dan berserah diri... Jika itu yang terbaik maka pasti Tuhan akan memberikannya untuk kita.Bersyukurlah karena kamu belum memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan, seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan. Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu, karena itu memberimu kesempatan untuk belajar. Bersyukurlah untuk masa-masa sulit, karena di masa itulah kamu tumbuh.
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu, Karena itu memberimu kesempatan untukberkembang. Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru, karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.
*Penulis merupakan Ketua Umum KAMMI Komisariat Eksakta UNAND
Pro – Kontra Badan Hukum Pendidikan
Pendidikan adalah suatu sumber utama dalam melahirkan penerus generasi – generasi terbaik bangsa. Tanpa adanya pendidikan maka tidak akan pula dapat kita temui kejayaan bangsa ini. Dari cita – cita para leluhur kita terdahulu pendidikan merupakan suatu hal yang harus diteruskan untuk perubahan negeri tercinta ini kearah yang lebih baik dan bekal untuk kemajuan kedepan. Dahulu pendidikan adalah sesuatu yang sangat mudah didapat, karena sifatnya yang sangat diperlukan sehingga membuat ia dapat diberikan kepada semua orang. Negara ini tidak boleh ditinggalkan dengan generasi yang bodoh, yang tidak paham akan segala sesuatu apapun, tetapi sebaliknya negara ini harus diteruskan oleh generasi yang pintar serta cerdas untuk membangun kembali kejayaan bangsa. Itulah yang menjadi prinsip dasar orang – orang terdahulu yang telah lama meninggalkan kita. Mereka sangat berusaha agar negara ini tidak jatuh pada orang – orang yang hanya bisa sebagai perusak peradaban, namun dengan pemikiran demikian mereka telah membuat negara ini sampai pada saat sekarang ini yakni negara yang berkembang yang penuh dengan ilmu dan pengetahuan.
Sekarang telah tiba kita di zaman dengan era globalisasi yang sangat maju. Perbaikan telah dilakukan dalam semua bidang dan aspek kehidupan, bahkan segala sesuatunya sangat sarat dengan teknologi yang canggih dan modern. Berbeda dengan zaman dulu yang hanya bisa berbuat sedikit demi sedikit untuk memajukan negara ini, sekarang dengan hitungan hari bahkan dalam jam negara ini dapat berkembang dan sangat maju. Beruntunglah kita yang hidup di zaman sekarang, karena telah menerima semua kemajuan tanpa berbuat apa – apa. Mungkin ini adalah berkat jeri payah orang – orang terdahulu yang dengan susah payah belajar dan terus belajar untuk kesuksesan negara. Maka pendidikanlah yang dapat menjawab segala tantangan bangsa.
Pendidikan kini mahal harganya, ia hanya dapat dirasakan bagi mereka yang mampu secara ekonomi dan finansial. Pendidikan tidak berpihak lagi ke seluruh golongan maupun kelompok, tetapi ia hanya diberikan kepada orang berada. Mungkin inilah perasaan yang dapat diungkapkan saat ini bagi kaum yang lemah. Hal ini terbukti di era globalisasi yang semakin canggih ini, pendidikan tidak dapat dikecap oleh semua pihak, sehingga masih banyak anak – anak bangsa yang mungkin dapat merubah nasib bangsa ini tetapi malah tidak bisa karena lemahnya ekonomi orang tua mereka yang tidak sanggup menyekolahkan mereka ke sekolah – sekolah yang mereka inginkan. Banyaknya anak – anak terlantar di jalanan yang dimasa beliannya mereka telah bersusah payah bekerja untuk mencari sesuap nasi bagi diri mereka sendiri dan terlebih lagi bagi keluarga mereka. Dengan bermodalkan alat musik yang serba sederhana mereka pun berusaha menghibur orang lain sebagai musisi jalanan, dan yang lebih miris lagi adalah jika mereka harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sejumlah uang. Dan seandainya kita menatapi nasib mereka, maka sungguh muram sekali kehidupan di negara tercinta ini. Di tengah gegap gempitanya teknologi yang serba canggih dan modern, ternyata masih ada peristiwa yang tidak menentramkan hati setiap kita.
Pengesahan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) pada tanggal 17 Desember 2008 silam oleh DPR-RI telah menuai pro dan kontra dari berbagai elemen masyarakat. Unjuk rasa besar-besaran menolak hadirnya UU BHP oleh sebagian besar mahasiswa di berbagai daerah telah mewarnai pemberitaan media elektronik maupun media cetak di penghujung tahun 2008. Disisi lain beberapa kalangan akademisi dan pengamat pendidikan tinggi justru menyambut baik pengesahan UU BHP ini.
Pro dan kontra terhadap kehadiran UU BHP adalah sebuah kewajaran dalam dinamika kehidupan akademis, karena pemahaman terhadap isi undang-undang BHP yang terdiri dari 14 pasal dan 69 ayat itu bisa berbeda. Kontroversi UU BHP yang digaungkan oleh sebagian masyarakat utamanya para mahasiswa itu lebih mengkritisi pada kekhawatiran dalam pelaksanaannya, yang diduga akan mengakibatkan semakin mahal dan tidak terjangkaunya biaya pendidikan di perguruan tinggi khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
UU BHP juga disalahkan karena tidak sejalan dengan semangat UUD 1945 yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kondisi ini terjadi karena nampaknya pemerintah kurang menyosialisasikan RUU BHP sebelum disahkan menjadi UU BHP, selain dijumpai banyaknya kelemahan pada pasal demi pasal. Padahal secara jelas ditegaskan bahwa undang-undang ini merupakan kelanjutan dari UU Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Perlu dipahami pula bahwa UU ini merupakan payung hukum bagi penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia, yang memberikan keleluasaan untuk menentukan kurikulum, pengembangan SDM, kekayaan aset dan fasilitas untuk mendongkrak mutu perguruan tinggi dan lulusannya yang kian merosot.
Bila kita simak secara teliti, ternyata UU BHP memiliki cukup banyak kelemahan yang secara umum dapat dikelompokan kedalam 3 (tiga) masalah utama, yaitu (1) masalah keberpihakan kepada masyarakat kecil, (2) masalah tanggungjawab pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi, dan (3) masalah kacau-balaunya pasal-pasal dalam undang-undang ini. Keberpihakan pada masyarakat kecil untuk memperoleh jaminan pendidikan tinggi dengan biaya yang terjangkau, nampaknya tidak tercermin dalam pasal-pasal dari undang-undang ini.
Meskipun pada kenyataannya, jauh-jauh hari sebelum UU BHP disahkan, hampir sebagian besar PT BHMN sudah lebih dulu memasang tarif tinggi untuk bidang studi yang banyak diminati. Dengan demikian, UU BHP telah memberikan legitimasi terhadap praktek-praktek pemungutan biaya kuliah yang tinggi tanpa batasan besarnya biaya tersebut khususnya pada beberapa PTN melalui pelaksanaan ujian mandiri.
Perguruan Tinggi BHMN mau ataupun tidak mau harus menerima kehadiran UU BHP yang menjadi payung hukum otonomisasi penyelenggaraan pendidikan tinggi. Bagaimana menyikapi UU BHP ini? tentu sangat bergantung pada kebijakan dari masing-masing perguruan tinggi pelaksana.
Dalam menyikapi akar masalah UU BHP seperti yang telah diuraikan di atas, maka Perguruan Tinggi BHMN harus mengambil peran untuk mengusulkan amandemen terhadap pasal-pasal yang secara nyata belum sempurna dan menyesatkan. Untuk itu perlu dilakukan kajian mendalam dalam mencermati pasal-pasal UU BHP dan mencari solusi pembiayaan selain dari dana masyarakat.
Solusi tersebut seyogianya diperoleh dengan mencari "cara cerdas" melalui pengelolaan sumber daya yang dimiliki perguruan tinggi berupa SDM yang handal dan aset-asetnya. Sebagai contoh, pelaksanaan berbagai kerja sama riset dan bisnis yang dapat memberikan kemaslahatan bagi seluruh sivitas akademika. Dengan demikian, peningkatan mutu pendidikan tinggi dapat dilakukan tanpa harus mengorbankan kesempatan bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk menimba ilmu di perguruan tinggi favorit dengan biaya terjangkau.
Sebagai catatan akhir tulisan ini penulis menambahkan bahwa pengesahan UU BHP, hendaknya harus memperhatikan 4 aspek. Pertama, aspek fungsi negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, kewajiban negara dan Pemerintah dalam bidang pendidikan, serta hak dan kewajiban warga negara dalam bidang pendidikan (Pasal 31 UUD 1945). Kedua, aspek filosofis yakni cita-cita untuk membangun sistem pendidikan nasional yang berkualitas dan bermakna bagi kehidupan bangsa. Ketiga, aspek pengaturan mengenai badan hukum pendidikan, sebagai implementasi tanggung jawab negara. Keempat, aspek aspirasi masyarakat, yang harus mendapat perhatian agar tidak menimbulkan kekacauan dan permasalahan baru dunia pendidikan di kemudian hari.
*Penulis merupakan Ketua Umum KAMMI Komisariat Eksakta UNAND
Pergerakan Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian ke depan
Dunia kemahasiswaan tidak akan pernah ada habis – habisnya jika dibahas dan dibicarakan. Banyak sekali hal yang akan selalu menjadi topik pembicaraan, mulai dari tingkat pembahasan Himpunan Kemahasiswaan, Unit Kegiatan Mahasiswa sampai dengan tingkat pembahasan kepemimpinan dalam tataran Badan Eksekutif Mahasiswa.
Sebelum berbicara lebih jauh, perlu kita pahami bahwa pergerakan mahasiswa sangat identik dengan yang namanya organisasi. Organisasi merupakan suatu istilah yang dipergunakan dalam dunia pergerakan kemahasiswaan. Dimanapun, siapapun, dan kapanpun suatu organisasi pasti akan sangat diperlukan dalam pergerakan mahasiswa. Organisasi juga merupakan sarana dan fasilitator bagi para mahasiswa untuk bergerak dan beraktifitas, baik itu untuk kepentingan mahasiswa, kampus , atau masyarakat sekalipun dalam bentuk pengabdian.
Sungguh suatu peristiwa yang sangat penting dan takkan terlupakan dalam dunia pergerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang lalu, tepatnya dalam pergelutan memperebutkan tahta kepemimpinan negara ini. pergolakan yang dirasakan rakyat sangat ditanggapi serius oleh para aktifis kampus. Penderitaan yang dirasakan oleh rakyat sudah mencapai pada titik klimaks yang sudah tak tertahankan lagi. Krisis ekonomi dan moral yang sudah berkepanjangan harus diselesaikan tuntas segera. Tidak ada lagi kata untuk menunggu penderitaan ini berakhir, tetapi kata untuk berjuanglah yang harus ditanamkan dalam hati untuk meretas kebangkitan negara ini. kekuatan yang ada pun mulai dikerahkan, semua golongan masyarakat yang merasakan kekacauan pada saat itu pun mulai turun ke jalan. Dengan berbekal ilmu dan wawasan yang berlebih mahasiswa pun dengan semangat yang berkobar membara bagaikan api yang tak kunjung padam menyuarakan aspirasi rakyat yang tak tersampaikan. Orang – orang yang mengaku dirinya kaum intelektual tersebut rela bergelut dengan pukulan yang keras, tembakan timah panas dari senapan para penjaga keamanan. Itu semua dilakukan demi terciptanya perbaikan untuk menuju kemakmuran rakyat. Dan hasil yang diperoleh adalah bukan sia – sia belaka dari perjuangan keras menuju kejayaan, namun kemenangan yang sangat berarti dan menuntaskan semua permasalahan yang menjadi pemicu kehancuran negara ini. Bangunan tempat pemerintahan para elit politik berlangsung itu pun berhasil diduduki para kaum intelek. Akhirnya kemenanganlah yang dapat diraih dari penindasan yang terjadi selama ini.
Inilah segelumit peristiwa yang menjadi catatan sejarah pergerakkan mahasiswa yang akan terkenang sepanjang masa. Dari peristiwa ini jugalah menjadi awal sejarah lahirnya para kaum intelektual muda yang penuh dengan semangat untuk mendirikan kebangkitan dan kemajuan bangsa. Melalui pencerdasan dari segala aspek kehidupan mulai dari aspek sosial, politik,ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan mahasiswa berani tampil untuk memulai memperbaiki moral rakyat yang dulunya telah hilang. Dan kini mahasiswa telah dinilai oleh rakyat dengan segala usaha dan upayanya sebagai agen of change yaitu agen perubah yang akan membawa perbaikan bangsa dan negara.
Dalam perjalanannya pergerakan mahasiswa yang dulunya sangat dinamis kini berubah dan mulai terkikis sedikit demi sedikit. Idealisme seorang mahasiswa pada zaman orde reformasi kini beralih kembali kepada zaman orde baru dimana pada saat itu pergerakkan mahasiswa dibuat stagnant dalam artian mati atau berhenti dan tak ada daya upaya. Karena ulah elit politik dengan kepentingan – kepentingan tertentu memaksa mahasiswa untuk bergerak secara diam – diam dan harus bersembunyi untuk suatu melakukan aktifitas tertentu. Berbagai cara dilakukan agar menutup –nutupi aktifitas mahasiswa yang dinilai pada saat itu adalah untuk tujuan suatu kepentingan sekelompok orang yang menginginkan kedaulatan dan tahta politik. Sampai pada akhirnya hal itu pun kembali pulih atas nama keberanian dan kebenaran. Dengan totalitas dalam bergerak dan bersungguh – sungguh maka tiada yang mustahil kita peroleh dari usaha yang maksimal. Satu kunci yang dapat kita pedomani yaitu totalitas adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kepahlawanan. Mungkin saat ini kata pahlawanlah yang tepat untuk disandang dipundak para aktifis kampus kita terdahulu. Karena pahlawan adalah gelar bagi pejuang yang telah gugur untuk membela bangsa dan negara. Bayangkan saja, dengan modal kerelaan dan keikhlasan di dalam segenap hati sanubari mereka berjuang untuk satu niat yang teguh yaitu kemakmuran rakyat dan kejayaan bangsa serta negara. Bukan hanya itu, mereka mungkin terkadang melupakan sejenak untuk kesenangan dan kebahagiaan diri mereka sendiri, mereke berjuang untuk rakyat, bangsa ini, negeri ini tercinta di atas sebuah prinsip yakni kepentingan umum diatas segala kepentingan pribadi.
Seperti halnya seorang guru yang bekerja dengan segenap hati untuk mencerdaskan bumi pertiwi ini. tanpa pandang buluh, golongan atau kelompok manapun, asalkan tugas mulia ini telah dikerjakan maka perasaan senanglah yang terasa dihati. Tenaga yang dikeluarkan sangat tampak dari cucuran keringat yang terus menetes tanpa belas jasa. Mereka bekerja dengan sepenuh hati, demi kejayaan bangsa. Itulah mengapa guru dinamakan seseorang pahlawan tanpa belas jasa.
Saat ini semangat seperti itulah yang kita butuhkan untuk mendobrak motivasi para mahasiswa untuk bergerak. Lain halnya seperti zaman dulu, sekarang tidak ada lagi halangan bagi mahasiswa untuk dapat beraktifitas, berbuat, dan berkarya menciptakan hal baru yang nantinya akan membawa perubahan kebaikan kedepan. Namun sering kali pertanyaan yang muncul dibenak para aktifis kampus kini yang bersemangat ingin bergerak adalah dimanakah kini dapat kucari suasana seperti pergerakkan mahasiswa dulu yang menginginkan kejayaan negara ini. dimanakah para penerus generasi bapak reformasi kita Amin Rais? Kemanakah dapat kita cari bapak pembaharu kita yang cerdas dalam berfikir seperti B. J. Habibi ?. Pertanyaan seperti demikian hanya dapat dijawab dimasa lalu, namun kini akan terasa sangat sulit dijawab, semua itu adalah karena pergeseran zaman yang membuat semuanya kini dianggap mudah sehingga mahasiswa kini tidak mau lagi merelakan tenaga, daya dan upaya untuk bergerak dan berusaha untuk meningkatkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya tetapi yang ada kini mahasiswa hanya lebih banyak bermain dibandingkan dengan mengisi waktunya untuk beraktifitas dan berkarya untuk menjadi seperti pahlawan yang telah kita sebutkan diatas.
Pergerakkan mahasiswa kini telah mati, tiada lagi yang dapat kita agung – agungkan seperti keberhasilan para kaum intelek terdahulu. Andai saja mereka tahu pastilah kesedihan yang terpancar dari wajah yang penuh semangat itu, keceriaan dan senyuman yang mereka nantikan untuk pengabdian mereka selama ini terhadap pembangunan bangsa hanyalah menjadi sebuah mimpi kecil yang akan selalu terbayang dan tidak akan pernah terealisasikan. Tanpa disadari kini idealisme seorang mahasiswa sejati telah mulai terkikis dimakan usia dan zaman. Ketakutan pun seiring dengan itu ikut berbicara bahwa negara yang telah lama merdeka ini ternyata rusak dan hancur karena ulah tangan orang – orang yang tiada bertanggung jawab atas semua peristiwa tersebut. Tiada lagi daya dan upaya dapat diperbuat jika untuk bergerak pun kini mahasiswa hanya bisa menunggu untuk dipanggil kalau ada keperluan saja. Seperti hanya datang ke kampus untuk kuliah lalu berusaha untuk memikirkan keberhasilan dirinya sendiri setelah itu pulang dengan membawa bekal materi kuliah yang diberikan dari kampus tadi.
Jika saja kita mengkaji apa perbedaan mahasiswa dulu dan sekarang, mungkin itu terletak pada kondisi dan suasana yang pada saat itu mahasiswa hidup dalam pergolakan. Oleh karena itu mahasiswa dulu akan cenderung memiliki kreativitas yang sangat tinggi untuk melakukan perubahan atas berbagai kerumitan yang dihadapi. Dibandingkan dengan mahasiswa sekarang yang mungkin hidupnya bebas dengan kenyamanan yang telah didapatkan atas jeri payah mahasiswa dulu yang dengan penuh semangat membangun negeri tercinta ini. dan mahasiswa kini hanya bisa terlena dan tertawa akan hasil yang telah didapatkan itu.
Jadi permasalahannya adalah terletak dari bagaimana cara kita sebagai mahasiswa yang hidup di zaman sekarang untuk tulus bergerak demi kejayaan bangsa dan negara kita ini. Jangan sampai akibat ketidakpedulian kita sebagai mahasiswa, kita akan mengulangi zaman dulu dengan peristiwa penjajahan yang telah kita terima dari negara lain sejak dulu dan tanpa sadar peristiwa itu telah terulang kembali dengan jalan yang berbeda, yakni dengan menguasai negara kita secara kekuatan akal dan fikiran yang cerdas, tidak sama seperti dulu yang berkuasa atas kekuatan fisiknya.
Terkhusus bagi rekan – rekan mahasiswa yang bergerak dibidang tertentu seperti pertanian, penyikapan mahasiswa atas pembaharuan negara ini adalah melingkupi segala aspek dan bidang. Termasuk dalam bidang pertanian sekalipun, jika ditinjau dari segi teknologi maka akan banyak sekali aktifitas dan pergerakan mahasiswa yang pastinya dapat pula melahirkan suatu karya yang spektakuler dan akan membawa kita menuju kemakmuran bangsa.
Suatu tantangan bagi kita yang bergerak dalam bidang teknologi pertanian, karena dari tangan mahasiswa yang berjuang untuk terciptanya keseimbangan alam ini butuh pengorbanan yang cukup besar baik itu dalam meluangkan sejumlah waktu, tenaga, fikiran bahkan harta sekalipun agar terciptanya tujuan tersebut. Ilmu dan wawasan yang telah didapat langsung dari kuliah adalah kekuatan terbesar yang sangat membantu dalam aplikasinya. Tak dapat kita pungkiri bahwa kondisi alam negara ini bahkan dunia ini dalam keadaan yang cukup sulit, rintangan alam seperti global warming atau akrab disebut dengan pemanasan global adalah pekerjaan rumah yang sudah semestinya diberi perhatian yang berlebih. Kalau tidak maka penyelesaiannya akan berdampak terus – menerus dan berlanjut sampai akibatnya mungkin kehancuran bumi yang menjadi tempat tinggal kita satu – satunya sebagai makhluk yang hidup di bumi.
Untuk itu himbauan kepada para aktivis kampus tercinta yaitu tetap semangatlah dalam bergerak, beraktivitas dan berkarya. Awalilah suatu hasil yang besar dengan mimpi dan cita – cita yang besar. Jangan takut untuk gagal, karena kegagalan merupakan keberhasilan yang tertunda dan juga merupakan pengalaman yang berarti dalam kehidupan. Belajarlah dari pengalaman, karena pengalaman merupakan guru yang terbaik diantara semua guru yang ada. Serta yakinlah bahwa suatu keberhasilan tidak dapat tercipta karena diberikan, tetapi keberhasilan itu tercipta dari perjuangan yang kita raih. Selamat berjuang para aktivis kampus, negara ini akan terus merindukan karya – karya terbaikmu. Maka ciptakanlah itu dan jadilah awal generasi yang akan terus dikenang generasi setelah ini serta tercatat dalam catatan sejarah perbaikkan bangsa dan negara.
*Penulis merupakan Ketua Umum KAMMI Komisariat Eksakta UNAND
Minggu, 15 Maret 2009
KAMMI & DEMOKRASI (Catatan Kecil Pergulatan 10 Tahun Usia KAMMI di Tengah Pusaran Demokrasi)
Itulah KAMMI, yang ketika kelahirannya dielu-elukan banyak pihak sebagai benih sekaligus buah reformasi. Ya, bagaimana tidak disebut benih dan buah reformasi kalau kelahiran KAMMI dan puncak perjuangannya berada dalam lintasan masa yang teramat pendek. KAMMI lahir di 29 Maret 1998 dan momentum puncak reformasi–saat Suharto jatuh dari kekuasaannya–pada 20 Mei 1998. Pasca itu, aras demokrasi tidak lagi menyertakan KAMMI dalam banyak hal. Indikator sederhana ini dapat kita tengok pada berbagai pemberitaan media. Saat awal kelahirannya hingga Suharto lengser, berita tentang KAMMI cukup banyak tersebar di berbagai media, baik secara kuantitas maupun kedalaman pemberitaannya. Setelah itu, jumlah pemberitaan serta ulasan tentang KAMMI amat terbatas jumlahnya.
KAMMI seakan tenggelam, masuk kembali ke dunia kampus dari yang sebelumnya berada di tengah hingar bingar prubahan politik bangsa. KAMMI seakan terlupakan begitu lahir berpuluh-puluh partai politik yang mengusung begitu banyak agenda dan janji pasca reformasi. Aksi-aksi pasca reformasi, menjadi terasa berbeda nuansanya, baik dari sisi antusisme elemen-elemen massa yang mendukungnya maupun dari sisi kemampuan mengemas isu dan opini publik yang diusung.
Demokrasi Pasca Reformasi
Reformasi yang awalnya disesaki idealisme akan perubahan mendasar ternyata menyertakan tidak hanya di kalangan para pemuda dan mahasiswa, Reformasi juga mengangkut berpuluh-puluh, beratus-ratus, bahkan beribu-ribu gerbong komunitas yang merasa terpanggil untuk menjadi bagian dari reformasi. orang berlomba menanamkan saham dalam menegakan demokrasi yang seakan baru terbangun kembali. Euporia reformasi mampu membutakan banyak pihak akan track record para pemain demokrasi ini.
Berbondong-Bondong orang-orang mengusung ide-ide perubahan, mengemasnya dan melemparkannya ke publik. Gelanggang politik seakan baru terbuka setelah terperangkap susana demokrasi semu selama 32 tahun sebelumnya. Orang seakan “hidup kembali” dan bergairah secara politik setelah masa pengebirian pendapat, kebebasan ekspresi serta opini terkebiri sistem yang menamakan demokrasi terpimpin dibawah jenderal besar yang bernama Suharto.
Antusisme dan kegairahan akan kebebasan mendorong orang untuk mencoba menyuarakan apa saja secara pribadi maupun kelompok . Kebebasan ekspresi ini berimplikasi pada begitu banyaknya media penyampai keyakinan, harapan dan kepentingan antar komunitas masyarakat. Pun media massa (cetak maupun elektronik) belumlah dirasa cukup oleh banyak kelompok untuk mengekpresikan berbagai kepentingan yang ada. Dalam konteks politik, tidaklah mengherankan akhir dari drama kebebasan ini adalah lahirnya begitu banyak partai politik. Seluruh profesi, kepentingan, entitas, kesamaan-kesamaan serta kedekatan antar personal bermuara menjadi partai politik. Bayangkan saja, ada ratusan partai yang lahir dengan berbagai tingkat kepentingan yang berbeda. Diantara parpol ini, terdapat beragam kondisi, mulai dari mereka yang berpikir serius dan berangkat dari ideologi, yang pragmatis, hedonis, hingga yang dagelan seperti Parsendi yang merupakan singkatan dari partai seni dan dagelan.
Ditengah itu semua, dimana posisi KAMMI saat itu. Ini sebenarnya pertanyaan yang muncul secara spontan di kalangan aktivis KAMMI awal yang baru saja merasa memiliki jeda untuk bisa bernafas lega, setelah seakan dikejar-kejar agenda penuntasan reformasi. KAMMI dan hampir semua gerakan mahasiswa yang ada di momentum menjelang tahun 1999 tentu saja merasa kecewa. Perasaan dikhianati elit-elit politik karbitan–walau sebagian sebenarnya bangkotan–mengemuka di wajah-wajah para aktivis ini. semuanya berteriak sama “sejarah telah berubah, namun kita kehilangan arah”.
Setahun setelah Suharto turun, suasana pragmatisme langsung mengemuka. Lagi-lagi orang berlindung dibalik kepentingannya masing-masing dalam melihat apa saja, termasuk kemana arah reformasi ini akan melaju. Perpecahan elit parpol–yang notabene juga kadang menjadi elit rakyat–berimbas pada hampir seluruh elemen penting bangsa. Mulai dari tentara, birokrasi, LSM, media hingga dunia mahasiswa dengan kadar dan suasana yang berbeda-beda.
Dalam dunia pergerakan mahasiswa, terlihat betapa aktivis mahasiswa banyak yang menjadikan dirinya bagian dari magnet bagi suara generasi muda yang menjadi pemilih pemula. Secara lembaga memang tidak ada persoalan, namun tetap saja pengaruh dinamika parpol sampai juga pada situasi internal sekaligus eksternal gerakan mahasiswa. Isu-isu yang muncul dan diusungpun kadang terasa singgungannya dengan agenda-agenda yang sempit dan Pragmatis.
Tahun 1999 bagi kondisi makro gerakan mahasiswa laksana “tahun tsunami independensi gerakan mahasiswa”. Godaan untuk mulai bermain kekuasaan begitu terbuka, sementara disisi yang lain banyak pihak menganggap agenda utama gerakan mahasiswa sudah selesai. Mahasiswa dianggap telah dengan gemilang mengantarkan bangsa ini pada “gerbang reformasi”. Kondisi paling nyata darihal itu adalah saat mulai ditariknya mahasiswa “ke barak”. Ini tampak hampir di seluruh kampus yang awalnya memberikan cukup banyak kelonggaran pada dinamika mahasiswa, perlahan mulai berubah. Kampus-kampus yang ada mulai mengetatkan kontrol akan kebebasan gerakan mahasiswa, baik diranah intra kampus maupun yang ekstra kampus seperti KAMMI.
Euporia gerakan mahasiswa terus meredup diiringi dengan mulai maraknya mahasiswa menekuni kembali masalah-masalah klasik kemahasiswaan, seperti tugas kuliah, ke perpustakaan serta kegiatan rutin lainnya. Aksi-aksi mahasiswa mulai kehilangan momentum besar dan signifikan. Aksi yang biasanya berjumlah ribuan, seiring waktu menyusut pada angka ratusan, bahkan kadang hanya pada angka belasan.
KAMMI di Tengah Pusaran Demokrasi Pasca Reformasi
Kemunculan KAMMI, pada awalnya sempat mencengangkan banyak pihak, termasuk dalam gerakan mahasiswa Indonesia sendiri. Pada awalnya, kehadiran KAMMI direspon banyak kalangan sebagai gerakan reaktif yang bersifat sporadis dan akan segera berhenti pada saat iklim heroisme telah surut. Ternyata dugaan ini keliru. KAMMI dari hari ke hari justeru semakin solid, bertambah massif gerakannya serta bertambah luas jangkauan wilayahnya. Bahkan dalam hitungan bulan sejak kelahirannya, terbukti KAMMI telah berhasil membangun jaringan kerja serta isu yang cukup baik. Hal ini terbukti ketika KAMMI Pusat yang berada di Jakarta menggelar berbagai aksinya, ternyata gelombang yang sama tercipta juga di luar Jakarta. Inilah barangkali yang ternyata secara jujur diakui salah satu penggagas pendirian LMND, Eko Putut Arianto (Ketua Presidium LMND yang pertama), yang mengilhami lahirnya gerakan mahasiswa yang bernama LMND (Liga Mahasiswa Nasional Demokrat) pada saat ada kongres mahasiswa Pro Demokrasi di Denpasar Bali tahun 1999.
KAMMI yang lahir dari rahim para ADK yang “khas Masjid”, ternyata memiliki kondisi sosiologis yang tidak terlalu jauh dari induknya. Para aktivisnya, dalam pandangan gerakan mahasiswa lain kadang dipandang kurang memiliki bobot yang dalam sebagai sosok aktivis gerakan. Para Aktivis KAMMI dalam tampilan kesehariannya memang lebih merefresentasikan aktivis masjid yang penuh ketawadluan. Kondisi ini kemudian berubah perlahan-lahan ketika para Aktivis KAMMI mulai terbiasa bersosialisasi dengan gerakan mahasiswa yang lain. Proses belajar yang terlalu cepat ini ternyata kurang bisa dipahami oleh dunia di luar KAMMI. KAMMI yang dianggap masih balita ternyata sangat pesat pertumbuhannya dan cepat pula mengambil posisi strategis yang cukup elegant dalam berbagai peristiwa yang terjadi.
Kondisi ini barangkali karena kelahiran KAMMI sendiri sebenarnya yang “unik”, yakni sebuah gerakan lama (dalam bentuk mata rantai da’wah mahasiswa yang panjang) yang kemudian “lahir” dalam bentuk organisasi baru yang bernama KAMMI. Jadi sejarah panjang KAMMI tidak akan bias diputus dari sejarah dan dinamika da’awah kampus di Indonesia yang di mulai tahun 80-an awal. Kondisi inilah yang menyebabkan KAMMI mampu tampil “lebih kental” warna Islamnya dibandingkan dengan gerakan mahasiswa yang lain. Ideologi gerakan KAMMI menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak pihak, yang pro maupun yang kontra sama-sama merasakan betapa ruh Islam cukup kuat tertanam dalam dimensi perjuangan yang dilakukan oleh KAMMI.
Agenda KAMMI Menuju Masa Depan
KAMMI kini tentu saja berbeda dengan kondisi awal kelahirannya. Ada begitu banyak tantangan yang muncul dan terjadi seiring perubahan waktu. Dibawah ini, setidaknya ada beberapa agenda yang dapat dijadikan pertimbangan KAMMI untuk bisa melewati tantangan serta medan amal yang ada di hadapan, yaitu :
1. Konsolidasi Kader dan Nilai
Konsolidasi Kader merupakan agenda penting yang tidak boleh terabaikan. Dengan kaderisasi yang terus terjaga, vitalitas lembaga KAMMI akan konstan. Kader dalam konteks lembaga berperan besar karena kader adalah aset gerakan yang sangat berharga. Selain itu, kader juga adalah representasi nilai-nilai gerakan di tengah dinamika masyarakat yang ada. Dari kader-lah sebuah lembaga akan terukur sejauhmana kekuatan dan kapasitas lembaganya. Jadi, kader dalam hal ini adalah barang nyata atau bentuk riil sebuah gerakan.
Persoalan kedua yang tak kalah pentingnya adalah permasalahan konsolidasi nilai. Nilai yang ada dalam ruh dan tubuh gerakan KAMMI, bukan sekedar nilai yang berangkat dari nilai-nilai yang berangkat dari formalisme pernyataan moralitas belaka.Nilai-nilai yang ada di KAMMI merupakan nilai “khas” yang merupakan proses sibghah yang panjang yang berangkat dari nilai-nilai idealisme di atas landasan kemurnian Islam. Aktivis KAMMI adalah mereka yang berjuang dengan nilai-nilai sebagai landasannya, dengan begitu, mereka yang bergerak haruslah dengan dasar kepahaman akan nilai-nilai dasar perjuangan KAMMI.
2. JAS MERAH (JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH)
Sejarah merupakan cermin jujur perjalanan masa lalu. Lewat sejarah kita akan berkaca sejauhmana perubahan ini telah terjadi. Apakah meningkat, atau malah menuju kehancuran yang tak terhingga. Dari sejarah kita bisa belajar sehingga dengan kemampuan membaca masa lalu, kita bisa terhindar dari kesalahan-kesalahan langkah yang kita lakukan. Lewat sejarah pula, kita akan mampu merencanakan lanskap baru masa depan.
Sejarah demokrasi bangsa yang kita pahami ternayat juga tidak memiliki siklus yang ajeg atau konstan. Ada pengulangan-pengulangan yang terjadi dalam setiap fase perjalanannya. Secara sederhana misalnya bisa kita lihat saat momentum sekitar pemilu 1955, tahun itu dianggap banyak kalangan sebagai tahun pluralsme menapaki keemasannya. Lewat regulasi yang demikian longgar orang bisa mendirikan parpol sebagai wujud manifestasi politiknya. Tak dinyana, hanya hitungan 44 tahun, kondisi ini terulang. Tepatnya tahun 1999, euforia kebebasan politik mencapai kondisi yang hampir setara dengan tahun 1955. Dengan begitu, dari cara pandang kita terhadap sejarah, bukan tidak mungkin kebebasan demokrasi yang ada saat ini, kalau tidak diwaspadai, bisa saja mengarah pada kemungkinan tumbuhnya langkah-langkah anti demokrasi yang penuh dengan kekangan dan pemasungan. Siapa tahu, bukankah jaman senantiasa berubah.
3. Berkacalah pada Realitas
Ummat Islam saat ini bukan sekedar butuh idiologi sebagai pemersatu visi mereka akan kehidupan dan aktivitasnya. Yang terjadi saat ini telah tampak gejala-gejala adanya kemelut di tubuh umat. Kemelut ummat saat ini berasal dari persoalan internal (masyakil dakhiliyah) dan persoalan internal.
Persoalan Internal sendiri terdiri dari persoalan pribadi (fardiy) dan persoalan sosial (Jama’iy). Persoalan pribadi (Fardiy) Umumnya berangkat dari rendahnya kesadaran akan identitas kepribadian diri sebagai seorang muslim yang ideal (syakhshiyah Islamiyah). Penyebab kemelut ini berasal dari rendahnya 4 hal. Yaitu : rendahnya kapabilitas spiritual (maqdirah imaniyah), rendahnya kapabilitas fisik (maqdirah badaniyah), rendahnya kapabilitas intelektual (maqdirah aqliyah) serta rendahnya kapabilitas profesional (maqdirah mihniyah). Sedangkan persoalan internal yang kedua, yakni persoalan sosial (Jama’iy), muncul dan berkembang dari masalah : kepemimpinan umat (qiyadiyah), perekonomian dan kemakmuran ( iqthisadiyah), kesadaran politik (siyasiyah) dan manajemen dan perencanaan da’wah (Idariyah Wa Takhthitiyah).
Persoalan kedua dari kemelut umat ini adalah terdapatnya permasalahan eksternal. Masalah ini muncul berlatar belakang terdapatnya konspirasi regional dan internasional dari kekuatan kaum munafik dan kaum kafir ( muamarah kafirin wa munafiqun). Intinya saat ini, orang-orang yang tidak suka dengan Islam, tidak sekedar antipati semata, mereka juga melakukan berbagai manuver untuk mengecilkan peran Islam dan Umat Islam.
4. Bersatu Menuju Perubahan
Dari uraian ketiga hal tadi, kini saatnya kita membangun sinergi antar elemen yang ada dalam rangka menegakan persatuan. Karena persatuan umat menjadi hal tak terbantahkan saat kita ingin membangun kebersamaan memperbaiki umat ini. Ada tiga elemen pokok persatuan yang harus terdapat dalam skema konsilidasi ini : pertama, penyatuan tujuan (tauhidul ghayyah), kedua, penyatuan prinsip ( tauhidul mabda), serta, ketiga, penyatuan pola gerakan (tauhidul manhaj).
Dengan persatuan yang terjalin, pengentasan persoalan-persoalan umat yang ada akan semakin mudah terselesaikan. Bahkan tidak itu saja, dengan sendirinya, harkat, kedudukan serta kehormatan Islam akan berkibar gagah di tengah umat lain di dunia. Untuk menuju persatuan ini juga, kita secara bersamaan kadang-kadang sudah harus membiasakan melupakan dulu sejumlah perbedaan, kepentingan sesaat serta agenda-agenda jangka pendek yang ada. Yang kadang menjadi duri da penghalang dari wihdatull ummah yang kita impikan.
Wallahu’alam bi showwab.
KAMMI Tawarkan Konsep Muslim Negarawan
“Kita membutuhkan negarawan yang bisa mengambil tanggung besar atas masalah bangsa. Bukan sekadar politikus atau pemimpin parpol,” jelas dia tentang negarawan.
Taufiq Amrullah menambahkan, pemimpin nasional tidak cukup hanya seorang negarawan. Namun, dia juga harus seorang muslim yang mampu menjaga nilai-nilai Islam. Konsep tersebut menjamin seorang pemimpin bisa menjaga perilaku. Agama Islam juga merupakan rahmat bagi umat manusia. Maka dari itu besar harapan seorang Muslim Negarawan bisa membawa pembangunan Indonesia menuju arah yang lebih sejahtera.
Mengenai kunjungannya pada Presiden, Taufik menampik sebagai bentuk dukungan KAMMI pada SBY dalam pemilu 2009, meski juga bukan sebagai bentuk penolakan. “Kami tidak hadir di sini untuk beri dukungan atau untuk menolak,” ujarnya.
Lebih lanjut Taufik menjelaskan agenda utama kedatangan PB KAMMI adalah mengundang Presiden SBY untuk membuka Muktamar VI KAMMI. Rencananya muktamar akan digelar 4 November 2008 di Makassar.
Menurut Juru Bicara Andi Mallarangeng mengatakan Presiden menyambut baik silaturahmi dengan PB KAMMI. Presiden, menurut Andi, juga akan memenuhi undangan KAMMI untuk membuka muktamar.
“Presiden mengapresiasi konsep-konsep yang dipaparkan. Semangat yang dilontarkan oleh kawan-kawan KAMMI kita sambut dengan bagaimana kita membangun etika politik dan sikap kenegarawanan,” tutur Andi.
Dalam pertemuan tertutup itu Presiden Yudhyono juga membicarakan berbagai masalah negara dengan KAMMI. [ihsan/dari berbagai sumber/www.suara-islam.com]
Senin, 05 Januari 2009
FILOSOFI GERAKAN
KAMMI adalah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia.
Misi KAMMI
a. Membina keislaman, keimanan, dan ketaqwaan mahasiswa muslim Indonesia.
b. Menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, danpolitik mahasiswa.
c. Mencerahkan dan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia menjadi masyarakatyang rabbani, madani, adil, dan sejahtera.
d. Memelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerjasama mahasiswaIndonesia dalam menyelesaikan permasalahan kerakyatan dan kebangsaan.
e. Mengembangkan kerjasama antar elemen masyarakat dengan semangat membawakebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma`ruf nahi munkar).
Kredo Gerakan.
a.Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka. Tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak. Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman,bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan.
b. Kami adalah orang-orang pemberani. Hanyalah Allah yang kami takuti. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa menggentarkan hati kami, atau membuat kami tertunduk apalagitakluk kepadanya. Tiada yang kami takuti, kecuali ketakutan kepada selain-Nya.
c. Kami adalah para petarung sejati. Atas nama al-haq kami bertempur, sampai tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini. Kami bukan golongan orang yang melarikan diri dari medanpertempuran atau orang-orang yang enggan pergi berjihad. Kami akan memenangkansetiap pertarungan dengan menegakkan prinsip-prinsip Islam.
d. Kami adalah penghitung risiko yang cermat, tetapi kami bukanlah orang-orang yang takut mengambil risiko. Syahid adalah kemuliaan dan cita-cita tertinggi kami. Kami adalah para perindu surga. Kami akan menyebarkan aromanya di dalam kehidupankeseharian kami kepada suasana lingkungan kami. Hari-hari kami senantiasa dihiasidengan tilawah, dzikir, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, diskusi-diskusi yang bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan, serta kerja-kerja yang konkret bagiperbaikan masyarakat. Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersamadakwah ini ke mana pun perginya, menjadi pembangunnya yang paling tekun, menjadipenyebarnya yang paling agresif, serta penegaknya yang paling kokoh.
e. Kami adalah orang-orang yang senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam.Kami bukanlah orang yang suka berleha-leha, minimalis dan loyo. Kami senantiasabertebaran di dalam kehidupan, melakukan eksperimen yang terencana, dan kami adalahorang-orang progressif yang bebas dari kejumudan, karena kami memandang bahwakehidupan ini adalah tempat untuk belajar, agar kami dan para penerus kami menjadiperebut kemenangan yang hanya akan kami persembahkan untuk Islam.
f. Kami adalah ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan,politisi yang piawai mengalahkan muslihat musuh dan yang piawai dalammemperjuangkan kepentingan umat, seorang pejuang di siang hari dan rahib di malamhari, pemimpin yang bermoral, teguh pada prinsip dan mampu mentransformasikanmasyarakat, guru yang mampu memberikan kepahaman dan teladan, sahabat yang tulusdan penuh kasih sayang, relawan yang mampu memecahkan masalah sosial, warga yangramah kepada masyarakatnya dan responsif terhadap masalah mereka, manajer yangefektif dan efisien, panglima yang gagah berani dan pintar bersiasat, prajurit yang setia,diplomat yang terampil berdialog, piawai berwacana, luas pergaulannya, percaya diriyang tinggi, semangat yang berkobar tinggi.
Prinsip Gerakan KAMMI
a. Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI
b. Kebathilan adalah musuh abadi KAMMI
c. Solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI
d. Perbaikan adalah tradisi perjungan KAMMI
e. Kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI
f. Persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI
Karakter Organisasi KAMMI
KAMMI adalah organisasi kader (harokatut tajnid) dan organisasi pergerakan (harokatul amal).
Paradigma Gerakan KAMMI
1. KAMMI adalah Gerakan Da’wah Tauhida.
a.Gerakan Da’wah Tauhid adalah gerakan pembebasan manusia dari berbagai bentukpenghambaan terhadap materi, nalar, sesama manusia dan lainnya, serta mengembalikanpada tempat yang sesungguhnya: Allah swt.
b. Gerakan Da’wah Tauhid merupakan gerakan yang menyerukan deklarasi tata peradabankemanusiaan yang berdasar pada nilai-nilai universal wahyu ketuhanan (Ilahiyyah) yangmewujudkan Islam sebagai rahmat semesta (rahmatan lil ‘alamin).
c. Gerakan Da’wah Tauhid adalah gerakan perjuangan berkelanjutan untuk menegakkannilai kebaikan universal dan meruntuhkan tirani kemungkaran (amar ma’ruh nahimunkar)
2. KAMMI adalah Gerakan Intelektual Profetika. Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh ataspenjelajahan nalar akalb. Gerakan Intelektual Profetik merupakan gerakan yang mengembalikan secara tulusdialektika wacana pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang universalc. Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalarwahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaanmanusia secara organik.
3. KAMMI adalah Gerakan Sosial Independena.
a.Gerakan Sosial Independen adalah gerakan kritis yang menyerang sistem peradabanmaterialistik dan menyerukan peradaban manusia berbasis tauhid.
b. Gerakan Sosial Independen merupakan gerakan kultural yang berdasarkan kesadarandan kesukarelaan yang berakar pada nurani kerakyatan.
c. Gerakan Sosial Independen merupakan gerakan pembebasan yang tidak memilikiketergantungan pada hegemoni kekuasaan politik-ekonomi yang membatasi.
4. KAMMI adalah Gerakan Politik Ekstraparlementer
a. Gerakan Politik Ekstraparlementer adalah gerakan perjuangan melawan tirani danmenegakkan demokrasi yang egaliter.
b. Gerakan Politik Ekstraparlementer adalah gerakan sosial kultural dan struktural yangberorientasi pada penguatan rakyat secara sistematis dengan melakukan pemberdayaaninstitusi-institusi sosial/rakyat dalam mengontrol proses demokrasi formal.Unsur-unsur Perjuangan KAMMIAgar dakwah dapat tumbuh berkelanjutan secara seimbang, tetap berada pada orientasi yang benar, mampu mengelola amanah dan masalah, dan terus memiliki kekuatan untuk mewujudkan tujuan-tujuannya, maka KAMMI menyusun dirinya di atas unsur-unsur sebagai berikut:
1. bina al-qo’idah al-ijtima’iyah (membangun basis sosial), yaitu membangun lapisanmasyarakat yang simpati dan mendukung perjuangan KAMMI yang meliputi masyarakatumum, mahasiswa, organisasi dan lembaga swadaya masyarakat, pers, tokoh, dan lainsebagainya.
2. bina al-qo’idah al-harokiyah (membangun basis operasional), yaitu mambangun lapisankader KAMMI yang bergerak di tengah-tengah masyarakat untuk merealisasikan danmengeksekusi tugas-tugas dakwah yang telah digariskan KAMMI.
3. bina al-qo’idah al- fikriyah (membangun basis konsep), yaitu membangun kaderpemimpin yang mampu menjadi teladan masyarakat, memiliki kualifikasi keilmuan yangtinggi sesuai bidangnya, yang menjadi guru bagi gerakan, mengislamisasikan ilmupengetahuan pada bidangnya, dan memelopori penerapan solusi Islam terhadap berbagaisegi kehidupan manusia.
4. bina’ al-qo’idah al-siyasiyah (membangun basis kebijakan), yaitu membangun kaderideolog, pemimpin gerakan yang menentukan arah gerak dakwah KAMMI, berdasarkansituasi dan kondisi yang berkembang.Keempat unsur tersebut merupakan piramida yang seimbang, harmonis dan kokoh, yang menjamin keberlangsungan gerakan KAMMI.
Kamis, 01 Januari 2009
Untukmu para pewaris peradaban
Wahai para mahasiswa.....
A Revolutional (il-inqilaab) is not a dinner party, nor an essay, nor a painting, nor a piece of embriodery; it cannot be advanced softly, gradually, carefully, considerately, respectfully,
politely, plainly, and modesly.
A Revolutional (al-inqilaab) is an insurrection, an act of violenceby one class overtrhows another.

